Wednesday, January 22, 2014
Thursday, September 26, 2013
Untitled(?)
anyway, check this out!
Sunday, May 26, 2013
First essay for scholarship application
Tuesday, April 30, 2013
Friday, April 12, 2013
Amy: The Innocent Knight
Suppose that on an island there are three types of people, knights, knaves, and normals (also known as spies). Knights always tell the truth, knaves always lie, and normals sometimes lie and sometimes tell the truth. Detectives questioned three inhabitants of the island—Amy, Brenda, and Claire—as part of the investigation of a crime. The detectives knew that one of the three committed the crime, but not which one. They also knew that the criminal was a knight, and that the other two were not. Additionally, the detectives recorded these statements: Amy: "I am innocent." Brenda: "What Amy says is true." Claire: "Brenda is not a normal." After analyzing their information, the detectives positively identified the guilty party. Who was it?
My solutions:
Assuming the two of three people are either a Knave or Normal.
|
|
Amy
|
Brenda
|
Claire
|
|
i.
|
Knight
|
Knave
|
Normal
|
|
ii.
|
Knight
|
Normal
|
Knave
|
|
iii.
|
Knave
|
Knight
|
Normal
|
|
iv.
|
Knave
|
Normal
|
Knight
|
|
v.
|
Normal
|
Knight
|
Knave
|
|
vi.
|
Normal
|
Knave
|
Knight
|
i and ii is wrong because a Knight cannot be innocent. iii and iv is wrong because a Knight gave false statement. v is wrong because a Knave gave true statement. This leaves the last option where Amy(Normal) tells a lie, Brenda(Knave) approves Amy's lie and Claire(Knight) gave a true statement.
Assuming the two of three people are Normals.
|
|
Amy
|
Brenda
|
Claire
|
|
i.
|
Knight
|
Normal
|
Normal
|
|
ii.
|
Normal
|
Knight
|
Normal
|
|
iii.
|
Normal
|
Normal
|
Knight
|
i is wrong because a Knight cannot be innocent. iii is wrong because a Knight gave a false statement. This leaves the second where Amy(Normal) tells a truth, Brenda(Knight) approves Amy's statement and Claire(Normal) gave a true statement.
Assuming the two of three people are Knaves.
|
|
Amy
|
Brenda
|
Claire
|
|
i.
|
Knight
|
Knave
|
Knave
|
|
ii.
|
Knave
|
Knight
|
Knave
|
|
iii.
|
Knave
|
Knave
|
Knight
|
i is wrong because a Knight cannot be innocent. ii is wrong because a Knave gave a true statement. This leaves the last options where Amy(Knave) tells a lie, Brenda(Knave) approves Amy's lie and Claire(Knight) gave a true statement.
haha, kesian Claire.
Comments and critics are welcomed.
Tuesday, January 22, 2013
Friday, December 21, 2012
Aku suka Ubuntu!
kedua: default command line interface dia, Terminal sangat jauh lebih menarik berbanding cmd. sedap mata memandang. haha
ketiganya, aku rasa aku tak ingat dah apa yang beza. haha
| keterangan gambar: aku boleh skrol process list tu dan page Twitter tanpa perlu klik pada tetingkap mereka terlebih dahula macam dalam Windows. jadi aku boleh terus fokus pada Terminal. |
Saturday, December 15, 2012
an unforgettable childhood incident
this is a composition I wrote when I was in high school-12022010. it’s not even good but i think, memories can’t be described by words so even if this one sucks, the real one was a-its’ not sweet but ughh, I don’t know. what a lame introduction… here is it:
Life starts with a birth of baby. Then we grow to some other levels that is childhood, adolescence, mature and old with times. Childhood is the best part of everyone that lives a happy life. this is because we must not care about anything else as grown up do. This lets children do whatever they like. Apart from that, most children are more probity than adults. This enables them to make friends with anyone and this makes childhood the best stage in everyone’s life.
I have some momentous fond memories of my childhood time. But this time, I will only write about one of it. It happens when I was about 7 years old. I believe that it was my uncle’s wedding day. This story is not about wedding. Obviously, I as a child doesn’t seems to care about what happens around me as I met my friends. There was a boy who was cocksure that he can beat me in a bicycle race.
As we concern, human is a creature which would not not accept themselves to be looked down by others. So I rushed home to pick up my bicycle to beat him down to earth. What a big aspire I think. At first, yes, I am better than him in the game and definitely faster than he was. This makes me over excited and force me to show my real ability. 100 km/h by riding a bicycle! I know that’s crazy. But I don’t even know how fast is that by that time.
When I was excited pedaling my bicycle, I accidently run into a hole. It wasn’t big but enough to tremble the bicycle and of course the crazy rider. I failed to control myself and fell off to the asphalt. That’s not fun enough I think. I remember that when the ‘fall of action’ is over, I stood up and checked my forehead because I can feel a warm sensation there. I was bleeding! I started to cry.
It wasn’t the pain that makes me ever cry. It’s about how scared I was! I was afraid that I would run out of blood. So I decided to return home and see my mother. The funny thing was: I put my hand right below the wound to collect the blood and prevent myself from great loss of blood. When I finally met my mother, she did nothing before laughing For my ‘good’ action. I too, could still smile for the momentous fond memory. It is not that fond actually, but that accident let me feel the love of a mother.
After I recovered from the injury, I never regret about dong the same thing. When I was about 10, I fell off in a crowd from a bicycle without any injury and rode back the bicycle to return home. Years later, these accidents always make me smile and even laugh when I remember about those moments. Accidents may bring us good memory but sometimes also could take away our life.
that’s all. actually, I omit the last line because it’s quite nonsense. it was “Thus, we should not intentionally commit any accident” – my teacher commented “How to commit an accident intentionally? =)”
Saturday, November 17, 2012
Hey Joe!
- bangun pagi solat Subuh,
- pukul 9 tidur,
- bangun lepas Zohor,
- lepas solat Zohor baring sampai Asar,
- lepas solat Asar baring sampai Maghrib,
- lepas solat Maghrib baring sampai Isya,
- lepas solat Isya baring sampai Subuh.
Sunday, September 30, 2012
aku tak suka kerja berkumpulan

- aku kena tunggu bahagian orang lain kalau nak terus maju ke mercu kejayaaa,
- bukan sikit orang yang tak tahu menepati masa,
- aku tak dapat terapkan idea aku bila aku dapat idea dan sebagainya.
Saturday, September 8, 2012
kehidupan aku sebagai kawan hadi
Assalamualaikum. lama tak post. rasa kesian pun ada pada peminat. haha
terus pada isinya, aku rasa aku suka seseorang. aku suka dia sebab, well it's almost meaningless to explain feelings. kan?
next thing, aku dah jadi sangat malas nak buat apa-apa sejak cuti raya. nak mandi pun malas. kalau boleh nak orang mandikan.
aku tension belum buat tutorial math. memanglah kalau tak buat tak akan habis, tapi lebih senang untuk bising sana sini risaukannya daripada selesaikannya. hahaha
hadi ni roomate aku yang sangat complicated.
Tuesday, August 7, 2012
I hate them
![]() |
| And out of a sudden, some people got some nasty speed and my speed looks like a child play compared to theirs. T_T How Maxis?! How? |
Thursday, August 2, 2012
Desperate : Facebook atau aku?

Monday, July 9, 2012
Monday, May 14, 2012
#31 Latar Belakang Pendidikan.
1. Taman Kanak-Kanak (Raudhatul Athfal).
Saya tidak ingat secara pasti apakah saya secara resmi masuk TK ataukah tidak, sebab kalau melihat umur yang standar bagi anak TK adalah 6 tahun kebawah, sedangkan ketika umur saya dibawah 6 tahun, seingat saya di desa Tenggulun belum ada TK yang didirikan oleh organisasi Muhammadiyah. Tetapi yang saya ingat pada masa-masa umur itu saya sudah belajar dengan menggunakan sabak (alat tulis yang berfungsi sebagai buku, bentuknya seperti papan tulis hitam, tetapi kecil terbuat dari bahan kayu) dan gerib (alat tulis yang berfungsi sebagai pencil bentuk seperti pensil tetapi terbuat juga dari batu yang bisa patah dan bisa dipecah menjadi kepingan yang lebih kecil, disebut juga sebagai batu tulis).
Materi pelajaran yang diajarkan pada saat itu adalah :
- Menulis huruf hijaiyyah (A, Ba, Ta, Tsa) dan seterusnya.
- Menulis huruf abjad latin (A, B, C, D) dan seterusnya.
- Belajar berhitung dan tulis angka (1,2,3,4) dan seterusnya.
- Belajar Menggambar.
Adapun belajar membaca Alquran diajarkan melalui Muqoddam (turutan) yang dalam muqoddimahnya ada cara belajar Alquran menurut cara Al Baghdadi.
2. Ibtidaiyah (Sekolah Dasar).
Untuk tingkatan ibtidaiyah (sekolah dasar), akan saya bagi menjadi dua bagian :
1. Kelas I, II dan III.
Masa-masa ini diantara yang paling mengesankan dalam hidup dan kehidupan saya, dimana pada saat itu ayah saya sebagai tokoh yang pertama kali membawa pemahaman Muhammadiyah ke desa Tenggulun bersama kakak iparnya, telah berhasil membuat dan mendirikan madrasah sendiri, yang kalau tidak salah pada saat itu dinamakan sebagai MIM (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah).
Madrasah ini didirikan diatas sebidang tanah bekas rumah ayah dan ibu sebelum pindah ke selatan (rumah yang ada sekarang), bangunannya sangat sederhana dan bukan permanent terbuat dari bongkotan (bagian paling bawah dari pohon bambu yang sudah tua).
Di madrasah inilah saya mulai ada semangat dan memiliki ghirah yang tinggi untuk belajar, karena pada saat itu saya sangat bersimpati dengan ustadz-ustadz dan ustadzah yang mengajar beliau-beliau bersemangat sekali mengajar kami.
Pada saat itu, terpaksa mengambil ustadz dan ustadzah dari luar, karena ketika itu belum ada seorangpun dari putra/putri Tenggulun yang ikut Muhammadiyah memiliki kemampuan mengajar, sebab organisasi ini belum begitu lama masuk ke Tenggulun, ustadz dan ustadzahnya diambil dari desa Tebluru, desa tetangga yang terletak di sebelah barat Tenggulun kurang lebih 2.5 km, adapun nama para pengajarnya antara lain yang saya ingat bapak Ali dan istrinya, bapak Fathurrahman, bapak Syakur, dan yang lainnya.
Beliau-beliau inilah termasuk orang-orang yang berjasa besar terhadap diri saya, dengan ketekunan, kesabaran dan mujahadah merka, membimbing, mengajarkan dan mendidik saya bisa, sehingga saya bisa mulai mengenali Allah swt, Rasul-Nya saw dan mengenal Islam, berdasarkan dalil-dalil yang sederhana, misalnya dengan membaca bersama-sama suatu hadits sebelum hari-hari pelajaran dimulai seperti
hadits berikut :
“Rodhitubillahi robba wabil Islaamidiina, wabil Muhammadin Nabiyya wa Rasuulan”
Artinya : “Aku ridho Allah sebagai Tuhanku dan Islam sebagai agamaku dan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul.”
Kemudian mereka juga membimbing saya dan teman-teman sekolah agar seluruh perbuatan baik, sebalum mengerjakannya mesti diawali dengan bacaan “Basmalah”, sehingga diantara ustadzah mengajarkan nasyid-nasyid yang bersifat tarbawi (mendidik), sampai sekarang alhamdulillah sebagian masih saya ingat antara lain,
Bismillah kita berangkat ke sekolah.
Menuntut ilmu yang berfaedah.
Siang dan malam tak kenal lelah.
Ke madrasah Muhammadiyah.
Reff. Agar kelak menjadi orang yang berguna dan berbahagia dst.
Nasyid ini sempat saya ajarkan kepada anak-anak saya (Asmaa’, Zaid, Balqis dan Hannah, Khubaib belum saya ajarkan karena masih kecil dan anak-anakku setelahnya juga belum karena belum lahir) tetapi dengan mengganti kata-kata Muhammadiyah dengan kata Islam nan Jaya.
Ustadz-ustadzah itulah yang mulai mengenalkan dan mengajarkan saya tentang Tauhid dan Syirik serta perbedaannya berdasarkan dalil-dalil, demikian juga tentang Sunnah dan Bid’ah.
Merekalah yang mengajarkan kepada saya awal mula tentang akhlak mahmudah (terpuji) yang mesti diikuti dan akhlak madzmumah (tercela) yang wajib dijauhi dan dihindari.
Mereka jugalah yang menjadikan saya mahir membaca dan menulis, menghitung, bermain terutama bola kasti dan sebagainya. Tentunya semua itu adalah meneruskan asas-asas yang telah ditanamkan orang tua sebelumnya. Jasa mereka, kesungguhan dan mujahadah mereka, ketekunan dan kesabaran mereka sungguh saya hargai.
Namun saya tidak dapat membalas apa-apa melainkan dengan ucapan Jazaakumullah khoirol jazaa, mudah-mudahan Allah swt membalas segala jerih payah ustadz dan ustadzah dengan sebaik-baik balasan.
Dan saya tak lupa juga selalu mendoakan ustadz dan ustadzah agar Allah swt senantiasa melimpahkan rahmat dan nikmat kepada mereka dan sudi membimbing mereka untuk tetap dan bisa menggabungkan diri dalam golongan Ash-Shodiqun (orang yang benar), yaitu para Al-Anbiya., Ash-Shiddiqin, Asy-Syuhada, dan Ash-Sholihin, serta mengakhiri hidupnya dengan khusnul khotimah.
Program belajar dan mengajar tersebut diatas berjalan kira-kira satu atau dua tahun, saya tidak dapat mengingat dengan tepat, pengurus madrasah berkeinginan mendatangkan guru (ustadz) yang bisa tinggal di Tenggulun, sehingga pada malam harinya bisa membimbing anak-anak untuk mengaji Alquran dan mengkaji ulang pelajaran-pelajaran di kelas, karena selama ini belum ada ustadz-ustadzah dari Tebluru yang setiap malam datang ke Tenggulun, sebab keinginan tersebut dirasakan kurang bijak, karena untuk mengajar ke Tenggulun pada siang hari saja harus berjalan kaki cukup jauh.
Maka akhirnya pengurus madrasah mendatangkan seorang ustadz dari Paciran yaitu ustadz Subhan, alhamdulillah dengan hadirnya beliau, maka program di musholla di Tenggulun waktu itu semakin giat dan baik, khususnya untuk malam hari karena ustadz Subhan setiap malam membimbing para pelajar untuk mengaji dan menghafal Alquran, selain itu beliau juga mengajar kami di sekolah pada siang harinya.
Sungguh beliau telah banyak berjasa besar terhadap diri saya, dengan ketekunan dan kesabarannya meskipun pada waktu itu masih belum berkeluarga, membimbing dan mentarbiyah saya dan malamnya di musholla dengan berbagai amalan Islami, mulai dari sholat berjamaah, mengaji Alquran, puasa, berdo.a, berdzikir, menghafal do.a-do.a dan lain sebagainya.
Mudah-mudahan amal baik beliau, mengajar, mendidik dan membimbing saya ke jalan yang benar dibalas oleh Allah swt, dengan balasan yang baik, semoga beliau tetap mendapatkan rahmat dan nikmat dari Allah swt, dan sudilahkiranya Allah swt membimbing beliau utnuk tetap dan dapat menyertai bahtera para Anbiya’, Ash-Shiddiqin, Asy-Syuhada. dan Ash-Sholihin.
Perlu juga saya catat disini bahwa ketika saya duduk di kelas I, II dan III MIM, sayajuga merangkap di SDN (Sekolah Dasar Negeri) di Sugihan, karena mengikuti jejak langkah kakak Muhammad Khozin, jadi kalau pagi ke SD dan kalau sore di MIM atau sebaliknya, di MIM tekanannya pada pelajaran-pelajaran diniyyah, sedangkan di SD pelajaran-pelajaran umum, yang saya paling terkesan ketika belajar di SD adalah sewaktu duduk di kelas III ketika itu guru tetapnya adalah pak Mutasam, beliau telah berjasa menddidik saya terutama dalam mengajarkan ilmu pengetahuan, berhitung, bahasa Indonesia, bahasa daerah, IPA, IPU dan lain sebagainya, mudah-mudahan jerihpayah beliau dibalas oleh Allah swt dengan balasan yang setimpal.
Perjalanan nglaju jalan kaki dari Tenggulun ke Sugihan untuk berangkat sekolah sejauh 2.5 km melewati jalan short-cut (pintas), sebab kalu melalui jalan besar agak jauh jaraknya karena mesti melalui desa Tebluru sekitar 4 km, dari Tenggulun ke Sugihan, dalam perjalanan hilir mudik ke sekolah banyak sekali kenangan dan pengalaman, namun rasanya kurang penting untuk saya tuliskan disini, biarlah saya simpan di saku saja.
Ustadz Subhan berada di Tenggulun kira-kira selama 1-2 tahun, lalu beliau meninggalkan Tenggulun karena ada tugas lain, kemudian pengurus mencari pengganti beliau, lalu mendapatkan seorang ustadz dari daerah kidulan (sebelah selatan sungai Solo) atau daerah kulonan (Laren ke barat) kalau tidak salah dari daerah Centini yaitu ustadz Thoha Yasin.
Belum berapa lama beliau berada di Tenggulun, mulailah angina Golkar menerpa Tenggulun, karena kebetulan tokoh Muhammadiyah di Tenggulun adalah pegawai pemerintah, ketika itu ayah saya sebagai carik demikian juga kakak iparnya.sebagai kepala desa, sehingga beliau berdua termasuk yang menyambut positif kehadiran Golkar di Tenggulun –mudah-mudahan Allah swt mengampuni dosa-dosa dan kesalahan beliau semua-.
Dengan kehadiran Golkar karenasalah satu program pendidikannya adalah mempersatukan antara Muhammadiyah dan NU maka dibentuklah GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam), maka dengan munculnya GUPPI di Tenggulun tamatlah riwayat Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) yang banyak jasa dan kenangan itu, dan meleburlah seluruh murid MIM, kecuali satu–dua anak yang meneruskan di SDN Sugihan.
Hadirnya GUPPI di Tenggulun ditingjau dari satu sisi sebagai musibah, karena membuat semua materi palajaran, terutama materi-materi diniyah seperti Aqidah, Fiqih, Tafsir dan lain sebagainya mengambang tidak tentu arah, yang jelas arahnya tidak seratus persen kepada kebenaran sesuai Islam atau Alquran dan As-Sunnah tetapi sebagiannya disesuaikan dengan selera hawa nafsu pimpinan program GUPPI atau sang bos, di plintar-plintir dan dibengkokkan, lain halnya dengan MIM atau bahkan madrasah milik NU sendiri, karena prinsipnya jelas, arah kajiannya jelas baik aqidah, fiqih dan sebagainya.
Misalnya MIM memiliki kurikulum materi aqidah yang mengacu kepada Aqidah Salaf yang diikuti oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm dan Syaih Muhammad Ibnu Abdul Wahhab rhm meskipun masih banyak kekurangan dan penyelewengan, sedang Madrasah Ma.arif (NU) mengacu atau mengikuti Asya.irah atau Asy.ariyah, pemahaman yang diikuti oleh Imam Al Asy’ari, Imam Al Ghozali dan sebagainya.
Adapun dari segi positifnya ukhuwwah Islamiyah bisa dijalin kembali, mungkin yang tadinya sudah kelewat batas yang mana kedua belah pihak saling bermusuhan yang satu menganggap yang lain sebagai musuhnya padahal sama-sama Islam, tetapi anehnya musuh yang sebenarnya malah tidak dianggap sebagai musuh, dengan adanya penggabungan ini maka mereka bisa rujuk kembali untuk tidak saling bermusuhan.
Saya termasuk yang menjadi korban peleburan dan penggabungan ini, secara otomatis seluruh kurikulum berubah, belum lagi ustadz-ustadznya yang tidak berani menerangkan satu bahasan secara gamblang dan jelas, karena masing-masing terpaksa harus mentolerir pemahaman yang lain, menjaga hati dari para guru yang back-groundnya berlawanan (NU vs Muhammadiyah).
Yang NU tidak berani menerangkan sesuai dengan yang mereka fahami karena khawatir murid-murid yang dari Muhammadiyah tersinggung dan lebih takut lagi kalau ada keterangan yang menyinggung di laporkan kepada ustadz-ustadz yang dari Muhammadiyah, maka antar ustadz boleh jadi akan saling sikut, demikian juga yang terjadi dengan pihak Muhammadiyah, mereka tidak berani menerangkan sesuai prinsip kebenaran yang diyakini karena khawatir menyinggung dan seterusnya.
Maka sampailah hari peleburan MIM dan Ma.arif menjadi GUPPI, murid-murid MIM terpaksa boyongan untuk menggabung ke Ma’arif, karena pada waktu itu Ma.arif bangunannya sudah permanent dan muridnya lebih banyak, sayapun terpaksa meninggalkan SDN Sugihan, karena bersamaan waktunya sehingga salah satu mesti ditinggalkan.
Monday, April 30, 2012
#30 Keistimewaan Lingkungan Medan Perang
Dalam ayat ini diterangkan tujuan Allah swt menurunkan hujan ketika perang Badar antara lain :
- “Liyuthohhirukum bihi”: Untuk mensucikan kamu (para shahabat r.a) maksudnya, dengan turunnya hujan, mereka bisa mandi junub dengan air tersebut, sehingga menjadi suci bebas dari hadats besar
- “Wa yudzhib ankum rijzasy-syaithaani”: Untuk menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syetan, maka setelah mereka mandi, menjadi tidak was-was lagi dan gangguan tersebut menjadi sirna..
- “Wa liyurbitho ‘ala qulubikumi”: Untuk memperkuat hatimu yang sempat kacau menjadi teguh kembali,
- “Wa yutsabbita bihil aqdamakum”: Dan memperteguh dengannya telapak kakimu. Maksudnya : Dengan air hujan maka medan badar menjadi mampad pasir atau tanahnya sehingga kaki-kaki mujahidin yang menginjak terasa ringan. –Wallahu A’lam-
demikianlah syetan tidak pernah putus asa, dimanapun juga akan mencari kesempatan untuk menyesatkan manusia.
6. Banyak sunnatulah yang semata-mata atas izin dan kehendak-Nya, hal-hal yang terjadi disekitar kita berubah dari kebiasaannya (dengan kata lain mendapat banyak karomah), misalnya antara lain :
a. Bom jatuh di dekat mujahidin tetapi tidak meledak sedang semua yang jatuh di tempat lain meledak.
b. Mujahidin terkena berpuluh-puluh peluru menembus pakiannya tetapi badannya tidak terkena peluru sama sekali alias selamat.
c. Tank terbakar hanya karena lemparan batu.
d. Binatang (burung, kalajengkin dan sebagainya) berperang bersama mujahidin, dan lain sebagainya.
7. Masyarakat di medan perang adalah masyarakat yang terbaik, sebab personalnya terdiri dari para mujahidin sedangkan menurut berpuluh-puluh hadits bahwa manusia terbaik adalah mujahid, kemudian yang kedua adalah orang yang uzlah dari orang ramai karena menghindari kejahatannya, jadi sebuah masyarkat yang dibentuk atau terdiri dari orang-orang yag baik-baik, sudah tentu masyarakat akan menjadi masyarakat yang baik.
8. tetapi meskipun demikian ada juga diantara mereka yang munafik, murjif dan mukhzil, karena begitulah sunnatullah yang ditetapkan, masyarakat Madinah yang dibentuk oleh Rasulullah saw adalah masyarakat terbaik yang pernah ada di muka bumi, sebagaimana yang diterapkan dalam hadits shahih
“Khoironnaasi Qorni Tsumma Alladziina Yaluunahum, Tsumma Alladziina Yaluunahum” Artinya : Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masa abadku, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya.
Maksudnya :
Seratus tahun pertama : Para Shahabat r.a
Seratus tahun kedua : Tabi’in rhm
Seratus tahun ketiga : Tabi’ut-tabi’in rhm
Meskipun demikian banyak juga yang munafik, murjif dan mukhdzil.
Keterangan :
- Munafik : Orang yang pura-pura masuk Islam secara lahirnya tetapi hatinya kafir, oleh karena itu hatinya bersama musuh-musuh Islam, bahkan pada satu waktu tertentu badan dan lisan mereka dalam satu program untuk memusuhi Islam dan ummat Islam.
- Murjif : Orang suka menyebarkan berita bohong untuk menyudutkan atau menyakiti atau merugikan Islam dan kaum muslimin (lihat Alquran surat (33) : 60).
- Mukhdzil : hampir sama dengan murjif, hanya berita-berita yang disampaikan dengan tujuan supaya kaum muslimin menjadi lemah, menjadi takut, misalnya isu-isu yang di desas-desuskan bahwa musuh dalam keadaan hebat, kuat kita pasti kalah dan lain sebagainya.
Oleh karena masyarakatnya adalah orang-orang yang baik maka para mujahidin yang berada di medan perang, rata-rata kerasan dan suka dengan tempat tersebut, sehingga mereka terasa berat sekali meninggalkan tempat itu, terutama yang masih bujang, yang belum berkeluarga dan tidak ada tanggungan apa-apa.
Selain itu diri ini terasa dekat dengan Allah swt, sehingga lebih mudah untuk mengingat-Nya, berdzikir kepada-Nya, bertawakkal dan sebagainya.
Monday, April 23, 2012
#29 Keistimewaan Lingkungan Medang Perang
Disamping yang sudah disampaikan diatas keistimewaan lingkungan medan perang antara lain :
1. Medan perang adalah cara yang sangat efektif untuk mentarbiyah dalam memantapkan tauhid seseorang baik Tauhid Rububiyah, Uluhiyah maupun Asma’ wa Shifat.
Ada suatu cerita sewaktu masih hangat-hangatnya perang Afghanistan I melawan tentara Rusia, beruang merah yang kafir itu, dimana ada seorang Doktor atau Master pada bidang Ushuluddin (jurusan aqidah), datang dari Arab ke Afghanistan utnuk menyaksikan jihad dari dekat dan hendak berjihad bersama-sama mujahidin, begitu ia sampai di Afghanistan tiba-tiba datanglah pesawat pembom milik Rusia (MIG) untuk membombardir kawasan itu, memang ketika rame-ramenya perang di sana hampir setiap jam rombongan pesawat datang kadang-kadang sampai belasan pesawat, bahkan terkadang lebih dari itu, sebagian hanya untuk caper (cari perhatian) mujahidin supaya mengalihkan perhatiannya pada pesawat tersebut, dan pada saat bersamaan secara tiba-tiba muncul serombongan pesawat untuk menjatuhkan bom.
Ketika pak Doktor tadi menyaksikan kejadian ini merasa ketakutan-maklum ia baru saja masuk ke medan perang-, maka ia lari kesana-kemari untuk mencari cover yang dapat menyelematkan dirinya dari serangan bom. Rupanya ketika itu ada seorang anak muda kira-kira berumur 8 tahun yang melihat pak Doktor sedang lari pontang-panting ketakutan, maka si anak inpun mendekatinya dan mengatakan kepadanya,” Ya Syaikh bukankah An-Nafi’u (Dzat Yang Memberi Manfaat) dan Adh-Dhlorru (Dzat Yang Memberi Madhorot), hanyalah Allah swt saja, kemudian si anak tadi membaca sepotong ayat Alquran yang dihafalnya, “Fa Asshooba min mushibatin illa bi Idznillaah” (Q.S (64) : 11) artinya : “Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”
“Qul laa Yushibanaa Illa Maa Kataballaahu” (Q.S (9) : 51) artinya : “Katakanlah sekali-kali tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah”
Pak doctor jurusan aqidah ini begitu mendengar ayat yang dibaca oleh anak tadi merasa tersentak seolah-olah belum pernah mendengar sebelumnya padahal sebetulnya sudah sangat hafal (jawa : nglothok), karena setiap hari dibacanya dan sudah diluar kepala, sesudah itu ia termenung memikirkan peristiwa yang barusaja ia alami sambil mengatakan pada dirinya, sendiri, :”Betul juga ya.. apa yang dikatakan oleh anak tadi, selama ini ternyata aku hanya belajar teori tauhid saja, tetapi belum memahami dan menghayati makna tauhid yang sebenarnya…”
“Aku memang sudah hafal di luar kepala bahwa Tauhid Rububiyah itu adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satuNya Dzat Yang Mencipta, Yang Memelihara, Yang Memberi Rizqi, Yang Menurunkan hujan, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, Yang Memberi Manfaat dan Yang
Memeberi Madharat dan lain sebagainya, tetapi ternyata tauhid tidak cukup dengan teori saj, mesti dipraktekkan.
Akhirnya dengan rasa tawadlu. campur malu-malu, beliau mengucapkan “Jazaakumullah Khoirol Jazaa.” kepada anak tersebut.
2. Merasa sedih jika tidak kebagian (tidak ditunjuk) menyerang musuh bersama-sama mujahidin yang lain, bahkan bisa menangis meneteskan air mata (Q.S (9) : 92).
Dulu sebelum saya berada di medan perang, saya tidak dapat memahami ayat tersebut, dimana dalam ayat tersebut ada salah seorang sahabat yang menangis bercucuran air matanya karena mendaftar mau ikut perang bersama Rasulullah saw dan para sahabat r.a, tetapi karena tidak ada kendaraan terpaksa ditolak, tetapi saya sendiri mengalami hidup di medan perang, ternyata hal seperti itu biasa dialami oleh para mujahidin apalagi jika mendengar satu bait syair yang keluar dari lisan salah seorang mujahid :
“Hai pelamar bidadari-bidadari surga, jika kamu benar-benar hendak menyuntinngya maka majulah berperang kehadapan musuh, inilah mahar (maskawin) pertama yang mesti dibayar terlebih dahulu. ” (Lihat Kitab Haadil Arwah Ilaa Bilaadil Afraah, oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah).
Kalau tentara biasa tidak di daftar malah selamatan (kenduri), karena saking senanngya… begitulah bedanya dengan mujahidin, sebab mujahidin berperang untuk mencari surga, sementara mereka berperang untuk mencari tambahan penghasilan berupa uang demi sesuap nasi, pangkat dan jabatan.
3. Anak-anak kecil berebut jika ada bom jatuh, untuk memastikan kalau-kalau ada yang tidak meledak, sebab jika tidak meledak merupakan rejeki nomplok bagi mereka untuk dijual besinya atau mendapati bom meledak tetapi masih menyisakan longsongannya. Biasanya begitu dari kejauhan terlihat bom yang tidak meledak atau kelongsongan, mereka berlarian untuk meletakkan ridak (kain sejenis selimut tetapi sangat panjang dan lebar) diatas bom tersebut sebagai peringatan (panjer : jawa) agar orang lain tidak boleh mengambilnya.
4. Seorang mujahid yang melihat sahabatnya badannya tercerai-berai, daginngya berserakan kesana-kemari, bukannya malah ngeri, seperti ketika melihat saudaranya kecelakaan di jalan raya, tetapi malah merasa iri kenapa tidak aku yang seperti dia, karena seorang mujahid mengerti benar fadhilah dan keutamaan mati fie sabilillah (syahid) dan pada hakekatnya, saudaranya yang daging dan tulanngya berserakan tadi tidak merasakan sakit melainkan seperti orang yang dicubit saja -Subhanallah-.
5. Lingkungan yang bebas maksiat-maksiat yang dzhahir, meskipun demikian syetan tidak pernah berputus asa menggoda manusia termasuk mujahidin, jika tidak dapat membujuk dan menggoda . Dikala mereka sadar dan terjaga, maka setan akan menggoda mereka dikala tidur, yaitu dengan hadirnya mimpi yang bermacam-macam, mimpi orangtuanya menyuruh pulang, keluarganya memerlukan dia untuk menjadi penasehat masalah agama, oleh karena itu mesti segera pulang, jangan menangguhkan lagi, kadang-kadang dibisikkan kedalam perasaan seorang mujahidin, engkau banyak dosa dan tidak layak menjadi seorang mujahid, pergilah ke tempat lain untuk membersihkan diri dahulu setelah sudah shalih baru boleh berjihad, dan seribu satu lagi bisikan yang lain.
Hal seperti ini pernah menimpa pasukan Islam di perang badar yang mana dalam salah satu riwayat diterangkan bahwa, hampir seluruh mujahidin saat itu terkena junub, maka setanpun membisik-bisikkan kepada mereka, “Kalian mau berjihad dalam keadaan berhadats, bagaimana hal ini bisa terjadi pada orang-orang yang mengaku sebagai wali-wali Allah swt?”. Maka untuk menghilangkan gangguan-gangguan setan tersebut allah swt menurunkan hujan untuk memandikandan mensucikan mereka (buka Q.S Al-Anfal (8) : 11).
Tuesday, April 17, 2012
blogging in 200 words
my name is Zaid. I love to read good articles. well who doesn’t? for me, a good article is something that is not only interesting but, how can I put this let’s say, magical. I really wish that I can someday make such things. a good article, read by everyone and loved by many. but I know that’s never going to happen because I’ve found nothing good in what I write. the points may be good but my writing skill is very, it’s really hard for me to say this, poor. at some point, I just erased a finished article(or whatever they call it) because I don’t feel like it’s the way I want it to be. I’m not being a perfectionist, I just don’t like bad things. but making a new one after another, doesn’t make it good enough. and that’s why I’m starting to try something new. to compose something short yet gives a big impression to the audience. that’s it. honestly, I’m unsure if I’m into reading or not. because sometimes I can read a hundreds pages novel but at some other times, even a ten words sentence is too long for me. all is true.
Monday, April 16, 2012
100 words of talking
my name is Zaid. I don’t like to talk because first, I make mistakes as I talk. second, I used talk about boring stuff that nobody wants to hear. third, sometimes I just don’t like to do it. ironically, as I have to describe me in less than hundreds words, I’ve already write (read said) 60 words until this very point. I never thought this will be so hard. it’s not that I don’t know myself, but this is a pain because I believe that if you want to know about someone, it’ll be your effort to know that person!
#28 Medan Perang: Keterangan
Bait Pertama : Asy-Syaikh Abdullah bin Mubarok rhm, sebagai seorang mujahid yang sedang berada di medan perang mengingatkan saudaranya dan sahabatnya (Asy-Syaikh Fudhail bin Iyadh rhm), maksudnya di tujukan kepada semua orang Islam yang sedang asyik beribadah di dua masjid yang mulia yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, beliau mengingatkan agar mereka tidak terlena dengan ibadah yang mereka lakukan dan melupakan jihad, karena jihad (medan perang) jauh lebih afdhal dibandingkan denga ibadah di kedua masjid yang mulia itu apalagi masjid yang lain, keutamaan sholat di Masjidil Haram seribukali dibandingkan dengan tempat lain, tetapi shalat di medan perang lebih afdhal lagi daripada di atas yaitu dua juta kali dibandingkan di tempat lain.
Bahasa sindiran yang beliau pakai sungguh pedas, begitulah seorang mujahid yang sedang berperang, memang memiliki perasaan tersendiri, terjemahan bebasnya, “Kalau anda tahu apa yang kami lakukan di medan perang, tentu anda akan mengerti bahwa ibadah yang anda lakukan hanya main-main saja.”
Bait Kedua :Kalau anda menangis membasahi pipi anda dengan air mata karena takut kepada Allah, ketahuilah bahwa tenggorokan kami basah dengan darah.
Disini Asy-Syaikh Abdullah ibnu Mubarok rhm mengajak kepada ahli ibadah tersebut untuk membandingkan mana yang lebih mahal antara airmata dan darah, tentu jawabannya darah lebih mahal, oleh karena itu orang yang berjihad lebih afdhal daripada orang yang beribadah di Masjidil Haram
Bait Ketiga : jika anda mencapek-capekkan kuda anda dalam kebatilan ketahuilah bahwa kuda-kuda kami bercapek-capek dalam medan peperangan.
Perhatikan bagaimana Asy-Syaikh memandang urusan duniawi seperti berdagang, mencari ma’isyah (pencaharian hidup), atau aktivitas apa saja selain jihad dikatakan sebagai suatu yang batil (menurut saya Wallahu A’lam yang dimaksud oleh beliau dengan batil disini bukan menurut syariat tetapi menurut perasaan seorang mujahid dalam membandingkan antara kuda yang dipacu untuk menyerang ke tengah-tengah barisan musuh dengan kuda yang ditunggangi kesana-kemari untuk mencari duniawi.).
Begitulah perasaan seorang mujahid yang berada di lingkungan medan perang.
Bait Keempat dan Kelima : maksudnya banyak hadits-hadits Rasulullah saw yang shahih menerangkan tentang fadhilah ibadah jihad dan mujahidin, antara lain artinya :
- Kedua kaki seorang hamba yang terkena debu fi sabilillah tidak akan tersentuh api neraka.
- Barangsiapa yang berjihad sebentar saja sepanjang memerah susu unta ia akan masuk surga.
- Dan seribu satu lagi hadits yang menerangkan tentang keutamaan jihad.
Begitu risalah syair ini diterima oleh Asy-Syaikh Fudhail bin Iyadh rhm yang pada waktu itu adalah sehebat-hebat dan semulia-mulia ulama’ dikalangan ulama di zamannya, karena beliau seorang alim besar, bahkan saya rasa tidak ada satupun dari pelajar ilmu syar’i pada masa sekarang ini yang tidak mengenal nama beliau.
Tetapi begitu beliau selesai membaca surat tersebut, beliau dengan tawadlu’nya menyatakan : “Shodiqo Abu Abdurrahmaan, wa nashoha”, maksudnya “Benar Abu Abdurrahman (nama kuniyah dari Abdullah bin Mubarok) dan dia telah menasehati (kami)”
-Subhanallah- ini sikap yang perlu diteladani oleh kiyai-kiyai, ustadz-ustadz dan ulama’-ulama’ pemuka agama kita.
Demikianlah indahnya hubungan ulama’ salaf kita, antara mujahid di medan perang dan yang berada di luar medan perang, masing-masing menyadari kedudukannya.
Contoh lain : perasaan tabi’in salafi juga yaitu : Ibrahim bin Ablah rhm, karena beliau merasakan suasana yang begitu menyenangkan di medan perang sehijgga seolah-olah baginya dan bagi para sahabat-sahabatnya yang lain bahwa hidup di luar medan perang (kota, desa dan lain sebagainya) itu lebih berat dalam menjaga iman, sehingga apabila mereka hendak turun kembali ke kampung-kampung halaman mereka terlintaslah dalam perasaannya bahwa jihad kita yang kemarin di medan perang itu terasa lebih ringan dibandingkan dengan jihad mengekang hawa nafsu kita, ketika berhadapan dengan godaan hawa nafsu di kampung-kampung kita sehingga keluarlah kata-kata : Roja’naa minal Jihadil Asghari Ilal Jihaadil Akbar
Artinya : “Kita kembali dari jihad yang kecil (perang), menuju jihad yang besar (melawan hawa nafsu)”
Namun akhirnya perkataan ini dijadikan alasan oleh orang-orang sufi untuk tidak berjihad, padahal mereka mengucapkan kata-kata ini sesudah kembali dari medan perang.


